MENJAUHI CINTA KETENARAN DAN SUKA DISANJUNG

”Wahai hatiku yang lemah dan penuh dengan kotoran,

Bertaqwalah kepada Allah Ta’ala. Tinggalkanlah hawa nafsu serta kedunguan. Perbanyaklah engkau beristighfar dan bersyukur kepada Allah Ta’ala. Berbuatlah amalan kebaikan dengan ikhlas.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaknya dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu apa pun dalam beribadah kepada-Nya.” (Al Kahfi: 110)

Wahai diriku yang terlena,

Perbaikilah batinmu. Tidaklah bermanfaat engkau menampakkan konsisten di atas sunnah, padahal ternyata hatimu gelap, riya, atau tidak ikhlas. Maka kumpulkanlah ikhlas dan ittiba’ dalam beramal.

Al-Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah berkata (Shaidul Khathir I/206) :

فمن أصلح سريرته فاح عبير فضله و عبقت القلوب بنشر طيبه فا الله الله في السرائر فإنه ما ينفع مع فسادها صلاح ظاهر

“Barangsiapa yang memperbaiki batinnya, maka akan tersebarlah keutamaannya yang banyak dan hati akan terus menebarkan kebaikannya. Maka hati-hatilah, jagalah batin kalian, karena jika batin telah rusak maka tidak akan bermanfaat lagi kebaikan amaliah yang tampak.”

Jauhilah olehmu cinta ketenaran dan suka disanjung. Karena cinta ketenaran merupakan (penyakit) yang paling akhir keluar dari hati orang-orang shalih.

Kita adalah umat yang mahkumah (diatur) marhumah (disayangi) dengan karunia Allah Ta’ala. Datang kepada kita syari’at yang bersih, murni, jelas, malamnya sama dengan siangnya, tidaklah menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.

Ilmu yang dipelajari merupakan pintu yang besar, yang bisa mengantarkanmu kepada al-jannah. Maka perhatikanlah! Hendaknya ikhlas dalam menempuh jalan ini, dan mengikuti jejak Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala adalah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang sehingga tidak akan menyia-nyiakan amalan seseorang. Bahkan Allah Ta’ala membalasnya dengan jauh lebih baik dari apa yang dikerjakan.

Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengampuni kekurangan-kekurangan diri yang telah lalu dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mukhlishin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s