KISAH HARMONIS KELUARGA ALI DAN FATIMAH

Meski berkedudukan sebagai kepala rumah tangga, Ali tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh kaum wanita.

Keluarga yang sakinah mawadah warahmah adalah keluarga yang taat syariah. Keluarga yang taat syariah senantiasa diliputi dengan ketenangan, kebahagiaan, dan kasih sayang sudah pasti akan diliputi keharmonisan dan jauh dari konflik. Segala persoalan dalam rumah tangga diselesaikan dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah Swt. dan bukan dengan jalan emosional, keputusasaan, dan maunya menang sendiri. Pertanyaannya, adakah keluarga semacam itu?

Ada, dan tidak lain adalah keluarga Rasulullah Saw. Tanpa mengurangi rasa kagum pada cara Rasul memimpin istri dan anak-anaknya, penulis bermaksud mengangkat profil rumah tangga putri beliau, yaitu Fatimah Az-Sahra dan Ali bin Abi Thalib. Ya, keluarga mereka juga patut menjadi cermin keluarga harmonis yang selalu diliputi kebahagiaan dan kedamaian.

Fatimah yang Giat Beribadah

Fathimah adalah putri keempat Rasulullah Saw. dan Khadijah Al-Kubra. Dalam kehidupan berumah tangga, ia adalah seorang figur dan dalam hal beribadah kepada Allah ia juga dikenal sebagai teladan. Setelah selesai dari semua kewajiban sebagai ibu rumah tangga, Fatimah akan dengan penuh khusyuk dan rendah hati beribadah kepada Allah serta berdoa untuk kepentingan orang lain.

Imam Shadiq meriwayatkan dari kakek-kakeknya bahwa Imam Hasan bin Ali berkata, “Di setiap malam Jumat, ibuku beribadah hingga fajar menyingsing. Ketika ia mengangkat tangannya untuk berdoa, ia selalu berdoa untuk kepentingan orang lain dan ia tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Suatu hari aku bertanya kepadanya, ‘Ibu, mengapa kau tidak pernah berdoa untuk diri Anda sendiri sebagaimana kau mendoakan orang lain?’ ‘Tetangga harus didahulukan, wahai putraku,’ jawabnya singkat.”

Saling Bahu Menjalankan Tugas Suami Istri

Fatimah dan Ali senantiasa saling bahu dalam menegakkan tiang kehidupan rumah tangga yang selalu dilandaskan pada hubungan cinta kasih, tolong menolong, kerja sama, dan saling menghormati. Pada suatu hari, Fatimah jatuh sakit. Ali pun sedih. Ali menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan Fatimah dan menggantikan tugasnya selama sakit.

“Beristirahatlah agar sakitmu segera hilang,” katanya kepada Fatimah.

“Aku telah cukup beristirahat, sampai-sampai aku malu apabila melihatmu mengerjakan tugas-tugas seorang ibu,” jawab Fatimah dengan suara lirih.

“Jangan pikirkan itu. Bagiku semua itu sangat menyenangkan. Lagipula, setelah engkau sembuh nanti, semua tugas, engkaulah yang akan mengerjakannya,” ujar Ali.

“Wahai istriku, adakah engkau menginginkan sesuatu?” tanya Imam Ali dengan tiba-tiba.
Fatimah terdiam sebentar, kemudian berkata, “Sesungguhnya sudah beberapa hari ini aku menginginkan buah delima.”

“Baiklah, aku akan membawakannya untukmu dengan rezeki yang diberikan Allah kepadaku,” kata Ali sambil bersiap keluar rumah. Ali langsung menuju pasar meskipun dengan uang pas-pasan.

Kisah tersebut di atas sudah sepatutnya dapat menginspirasi suami istri untuk saling menghargai. Meski berkedudukan sebagai kepala rumah tangga, Ali tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh kaum wanita. Ini merupakan tanda bukti kecintaan Ali pada istri yang sangat disayanginya. Sebaliknya, Fatimah juga selalu memberi dukungan penuh terhadap suaminya ketika sedang menjalankan tugas negara atau segala hal yang berhubungan dengan perjuangan menegakkan ajaran Islam. Selain itu, Fatimah juga dikenal sebagai pribadi yang mau mengesampingkan kepentingan dirinya demi perjuangan Islam serta semua ajarannya.

Saat Menghadapi Krisis Ekonomi

Saat menjalani krisis ekonomi, pernah tiga hari Fatimah tidak makan dan ketika Ali melihatnya pucat, ia berkata, “Ada apa denganmu wahai Fatimah?”

Fatimah menjawab, “Selama 3  hari kami tidak ada (makan) apa-apa di rumah”.

Ali berkata, “Kenapa kamu tidak memberitahu aku?”

Fatimah menjawab, “Pada malam pertama, ayahku Rasulullah Saw. berkata kepadaku: ‘Wahai Fatimah, jika Ali datang membawa sesuatu makanlah, jika tidak jangan kamu minta.'”

Rupanya Fatimah mengerti benar posisi Ali pada saat itu. Kesibukan Ali dalam berdakwah dan berjihad membuat Fatimah tidak mau mengusiknya dengan masalah ekonomi rumah tangga agar konsentrasi suaminya tidak terpecah. Pengertian dan kesabaran Fatimah bukanlah hal yang tanpa pemahaman: mana yang termasuk kesesangsaraan dan mana yang termasuk amalan baik. Menahan lapar apabila dikerjakan karena Allah Swt. dan diniatkan agar suami tidak terbebani akan menjadi amalan yang mendapatkan pahala besar dari-Nya.

“Isyarat penting dalam kisah tersebut adalah bahwa persoalan ekonomi dan tekanan kebutuhan rumah tangga tidak harus menjadi hal yang menimbulkan konflik. Segala persoalan rumah tangga apabila diselesaikan dengan penuh sakinah mawadah warahmah (ketenangan, kebahagiaan, dan kasih sayang), isnya Allah akan membuat hubungan suami istri tetap harmonis…”

Pada suatu kesempatan, Ali bertanya kepada Fatimah mengenai boleh tidaknya ia mendapatkan pembantu dari Rasulullah Saw. Ketika Fatimah datang ke rumah ayahnya, banyak tamu yang datang menemui beliau sehingga Fatimah tidak bisa mengutarakan maksudnya. Keesokan harinya, Rasul datang ke rumah Ali dan Fatimah. Ketika Rasulullah Saw. bertanya kepada Fatimah tentang maksud kedatangannya kemarin, Fatimah diam saja. Karenanya, Ali pun menceritakan hal yang dimaksud namun Rasulullah Saw. tidak mengabulkan keinginan mereka untuk memiliki pembantu tersebut. Rasul Saw. bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, tunaikanlah tugasmu terhadap-Nya, lakukan pekerjaan rumahmu seperti biasa, ucapkanlah subhanallah, alhamdulillah dan Allahu Akbar, ucapan ini akan lebih membantu kalian daripada seorang budak.”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s