HIKMAH MENJAGA SHALAT

Allah SWT menyampaikan perintah shalat kepada nabi Muhammad Saw ketika peristiwa Isra Mi’raj, dengan lima waktu yang berbeda-beda dalam sehari semalam. Yaitu ketika tampak fajar di bawah ufuk sebelah timur (Subuh), ketika tergelincirnya matahari (Zuhur), ketika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri (Asar), ketika tenggelamnya matahari (Magrib) dan ketika hilangnya mega merah (Isa).
Berkaitan dengan pembagian waktu shalat, tentu ada hikmah yang terkandung di dalamnya.
Sholat Subuh misalnya, dikerjakan waktu fajar, agar manusia terbangun dari tidurnya. Shalat Zuhur dilaksanakan di siang hari, agar manusia ingat akan Tuhan-Nya saat sedang asyik-asyiknya bekerja. Shalat Asar dilaksanakan sore karena manusia semakin sibuk dengan urusan dunianya. Maka, Allah memintanya untuk mendirikan shalat. Ketika waktu magrib menjelang, maka mulailah matahari terbenam yang menandakan waktu siang telah berakhir dan malam akan segera menjelang. Sedangkan Shalat Isa, manusia diminta melakukan refleksi diri tentang apa yang telah dilakukannya seharian.
“Dari perbedaan waktu sholat itu, jelas sekali bila Allah selalu mengingatkan kita sebagai hambanya agar menyembah Tuhan yang telah menciptakannya”.
Sebuah penelitian bersumber dari National Geographic 2002 Road to Mecca menyebutkan, Doktor Neurologi sekaligus muallaf asal Amerika Serikat, Dr. Fidelma menemukan beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup supaya otak berfungsi normal.
Darah tersebut akan memasuki urat saraf di dalam otak hanya di saat-saat tertentu, ketika seseorang melakukan shalat, yaitu ketika sujud. Dan subhanallah, shalat yang dilaksanakan dalam lima waktu yang berbeda, adalah saat ketika urat saraf di otak kita tersebut memerlukan pasokan darah.
Selain mengandung hikmah dibalik penetapan waktu yang berbeda-beda, shalat juga mengandung efek positif bagi seluruh segi kehidupan manusia. Aspek tersebut mencakup; aspek kesehatan fisik, aspek kesehatan spiritual hingga aspek ekonomi seorang muslim.
Orang yang disiplin sholat, insya Allah akan memperoleh kelapangan rezeki, keberkahan harta. Cuma untuk menjamin kedisiplinan ini dibutuhkan sebuah amalan yang terjaga, yaitu menjaga wudhu setiap saat, membiasakan baca Alquran dan membiasakan hidup dalam majelis taklim.
Tentang relasi disiplin shalat dengan aspek ekonomi seorang muslim dikarenakan orang yang disiplin mengerjakan shalat tepat waktu akan memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Jika kita tidak menghargai waktu, jangan berpikir etos kerja yang tinggi. Orang yang tidak menghargai waktu pasti orang yang sangat lalai. Artinya orang yang tidak mampu memenej waktunya berarti etos kerjanya lemah.
Selain itu, Allah SWT memberi rumusan dalam alquran, dengan mengingat Allah, maka hati akan tentram. (QS Ar-Ra’d: 28) Shalat itu mengingat Allah. Orang yang stress tidak akan bisa bekerja dengan optimal. Begitu juga orang yang tidak tenang dan tidak konsentrasi, tak akan bisa bekerja dengan optimal.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s