SEBUAH PESAN DARI ARAFAH

Arafah. Setiap tahun tempat ini selalu menjadi oase putih nan luas di tengah padang sahara bergunung-gunung yang gersang. Seperti baru saja terjadi. Arafah memang luar biasa, dan bukan gurun biasa. Pada suatu hari malaikat Jibril a.s. membimbing Nabi Ibrahim a.s. menjalankan manasik ibadah haji. Ditunjukkannya tempat-tempat mulia, satu per satu. Ketika sampai di Arafah, Jibril bertanya, “’Arafta, adakah kamu sudah tahu?” Nabi Ibrahim a.s. menjawab, “Ya.” Dari situ, tempat tersebut dinamai Arafah.

Tetapi versi yang lebih masyhur mengatakan, penamaan Arafah itu terkait dengan sejarah yang lebih kuno. Sejarah Nabi Adam a.s. dan istrinya, Hawa. Kala itu mereka diturunkan dari sorga ke bumi di tempat yang berjauhan. Nabi Adam a.s. di India, dan Hawa di Jeddah.

Setelah melewati masa-masa sepi sendiri selama bertahun-tahun, mereka dipertemukan kembali oleh Allah. Mereka bersua di padang Arafah. Itulah sebabnya, tempat tersebut dinamai Arafah, yang berarti pengenalan.

Kelak, Arafah menjadi tempat berkumpulnya anak turun mereka dari berbagai penjuru dunia. Yaitu setiap tanggal 9 Dzil Hijjah. Pada tanggal 9 Dzil Hijjah lalu, jutaan anak manusia dari berbagai penjuru dunia berhimpun di situ. Mereka berdiam di situ, semua mengenakan baju putih bersih, sembari beribadah, salat, membaca Al-Quran dan melafalkan zikir pada Allah. Mereka berkumpul guna melakukan wuquf, sebagai salah satu rukun ibadah haji.

Ini adalah puncak haji. Wuquf bahkan menjadi rukun haji yang paling penting. Itu bisa dilihat dari sabda Nabi s.a.w.:

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ

Haji itu Arafah.

Seolah-olah ibadah haji itu hanya wuquf di Arafah. Padahal, rukun haji tidak hanya wuquf. Ada thawaf, sa’i dan lain-lain. Pernyataan Nabi tersebut, tidak lain dan tidak bukan, dikarenakan pentingnya wuquf.

Beruntunglah kita karena Allah mensyariatkan ibadah haji pada kita. Haji adalah satu-satunya ibadah dan kesempatan di mana umat Islam dari berbagai penjuru dunia dan dari berbagai latar budaya berkumpul jadi satu, setiap tahunnya. Dan puncak dari semuanya itu ialah wuquf di Arafah.

Bandingkan, misalnya, dengan ibadah salat. Ibadah ini hanya mempertemukan komunitas umat Islam sedusun. Atau, paling jauh, kaum muslim sekota. Yaitu melalui ibadah salat Jumat.

Dalam ibadah thawaf pun tidak seluruh jamaah haji berkumpul di satu tempat pada saat yang sama. Begitu pula dalam ibadah sa’i dan melempar jumrah. Namun, pada saat wuquf, semua jamaah haji yang berjumlah jutaan itu berdiam dan berkumpul di satu titik.

Ini luar biasa. Momen seperti itu seharusnya bisa menerbitkan perasaan bahwa umat Islam tidak hanya terdiri atas satu suku atau satu bangsa, tetapi berbagai-bagai suku, bangsa dan latar budaya. Bahwa kita sebagai muslim adalah satu bagian dari masyarakat muslim dunia yang beraneka ragam. Setiap tahun kita seperti diingatkan mengenai hal itu.

Haji dan, pada khususnya, wuquf adalah kesempatan yang baik untuk mengamalkan firman Allah:

يَا اَيُّهَا النَّاسُ انَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثَى وَ جَعَلَْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا

“Wahai manusia, sungguh telah Kuciptakan kalian terdiri atas laki-laki dan perempuan, serta Kuciptakan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal.”

Di Mekah dan Arafah kita melihat manusia dari berbagai suku, ras dan kebangsaan. Betapa indahnya. Seperti pelangi. Warna kulit mereka berbeda. Wajah mereka berbeda. Postur tubuh mereka berbeda. Perilaku mereka berbeda. Gerak tubuh mereka berbeda. Ekspresi wajah mereka berbeda. Bahasa mereka pun beragam.

Di situ kita belajar berdiri di tengah kebinekaan, dan ayat di atas mengajari kita untuk belajar bersikap toleran menghadapi perbedaan. Manusia dijadikan berbeda-beda jenis kelamin dan berbeda suku serta bangsa bukan untuk membanggakan diri. Bukan pula untuk mengolok-olok orang lain, yang mungkin berbeda warna kulit atau berperilaku aneh serta berbahasa tak lumrah dalam pandangan kita. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum lain, siapa tahu mereka yang diolok-olok lebih lebih baik daripada yang mengolok-olok.”

Sebaliknya, tujuan manusia dijadikan berbeda-beda ialah supaya kita saling mengenal. Baik mengenal mereka secara pribadi, maupun mengenal budaya mereka. Belajar memahami mereka dalam perbedaan.

Dan sebagaimana sabda Nabi s.a.w., “Muslim itu cermin bagi muslim lain,” mereka yang berbeda dari kita itu bisa menjadi cermin bagi kita. Cermin yang memperlihatkan kelebihan mereka sekaligus menunjukkan kekurangan diri kita.

SAUDARA

Yang lebih menakjubkan lagi ialah, mereka yang berbeda-beda warna kulit dan potongan tubuh dan berjumlah jutaan itu ternyata memiliki kesamaan dengan kita. Tuhan mereka satu (tuhan seluruh makhluk memang satu), yaitu Allah. Agama mereka satu, yaitu Islam. Cara ibadah mereka sama. Bahasa ibadah mereka sama, bahasa Arab. Kiblat mereka sama, yaitu Ka’bah. Mereka adalah saudara-saudara kita. Saudara seiman dan seagama kita. Sebagaimana dalam firman Allah:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ

“Sungguh kaum mukmin itu saudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kalian.” (Al-Hujurat: 10)

Melalui wuquf di Arafah kita menjadi tahu secara haqqul yaqin bahwa Islam tidak hanya dipeluk oleh orang sesuku atau sebangsa kita, tapi juga oleh bangsa-bangsa dan suku-suku lain. Amboi, indahnya.

Dan persaudaraan sesama muslim adalah persaudaraan yang hangat, seperti diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam sabda beliau:

مَثَلُ اْلمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ اْلجَسَدِ إِذَا اْشتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ  تَدَاعَى َلهُ سَائِرُ اْلجَسَدِ

بِالسَّهَرِ وَاْلحُمَّى (رواه مسلم)

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencinta dan menyayang mereka seperti jasad. Manakala satu anggota tubuh sakit, maka seluruh jasad didera demam dan tidak bisa tidur.” (riwayat Muslim)

Jadi, jika kita melihat saudara sesama muslim yang sakit, kita juga merasa sakit. Bila ada saudara muslim kita yang tertimpa bencana, misalnya, maka kita juga merasakan sakitnya dan tergugah hati kita untuk ikut membantu meringankan penderitaan mereka. Jika kita melihat saudara kita yang kelaparan, kekurangan, muncul rasa solidaritas kita. Mungkin kita tergelitik untuk merogoh kocek sendiri. Mungkin kita menggalang solidaritas di antara orang-orang guna membantu meringankan penderitan mereka.

BEPERGIAN

Kembali ke ayat perkenalan di atas. Menurut ayat tersebut, seorang muslim sebaiknya tidak hanya diam di kampung halaman selama hidupnya. Kita umat Islam memang sebaiknya melakukan perjalanan, penjelajahan. Sebagaimana dalam firman Allah:

قُلْ سِيْرُوْا فِى اْلاَرْضِ فَا نْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلُ

“Katakan, “Berjalanlah di atas bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang sebelum kalian.” (Ar-Rum: 42)

Dengan melakukan perjalanan ke tempat lain, pikiran tidak sempit. Cakrawala berpikir menjadi terbuka. Kita dapat melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.

Melakukan pengelanaan, sembari mencicipi ketidak-nyamanan yang mungkin ditemui di dalamnya sambil bertemu dengan orang yang berbeda-beda dan melihat tempat-tempat dan benda-benda yang berbeda, bisa mengasah ketajaman mata hati, memperkaya batin, sekaligus membantu menyucikan hati. Itulah sebabnya, kita mengenal banyak sufi yang selama hidupnya berkelana, seperti sufi Ibrahim bin Adham. Kita juga mengenal beberapa nama tokoh, seperti Ibnu Bathuthah, yang telah melakukan perantauan jauh, melintasi batas-batas benua, yang hasilnya lalu dia tuangkan dalam bentuk tulisan, buku.

Dengan melakukan perjalanan kita bisa mengais ilmu yang lebih banyak dari beragam guru. Bacalah riwayat hidup para imam dan ulama dulu. Mereka umumnya melakukan perantauan ke berbagai negeri guna menghimpun ilmu. Dan hasilnya memang nyata, yakni terlahirnya ulama-ulama besar dengan penguasaan ilmu yang tinggi dan luas. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائَِةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْا اِلَيْهِمْ

 “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya “  (At-Taubah: 122)

Dengan melakukan perjalanan ke tempat lain, kita mengenal macam-macam manusia, adat istiadat, budaya, bahasa yang berbeda-beda. Dari situ kita bisa belajar banyak.

Tetapi tak cuma itu. Melakukan perjalanan dan pengelanaan adalah kesempatan untuk berbagi. Kita menjadi tahu, ada orang-orang yang lapar dan dahaga serta membutuhkan uluran tangan kita. Entah dalam pengertian fisik maupun dalam pengertian spiritual. Coba bayangkan, seandainya tidak dai-dai pengelana dari Timur Tengah, India dan lain-lain, tidak datang ke sini dulu, mungkin Indonesia tidak menjadi negeri mayoritas muslim. Amboi, betapa besar jasa mereka, dan betapa besar manfaat dari pengelanaan.

Sekarang, andai para habaib dan ulama tidak keluar dari tempat peraduan mereka untuk mendatangi pelosok-pelosok dan tempat-tempat jauh, mana tahu mereka ada masyarakat yang mengalami kekosongan ilmu dan spiritual? Habib Umar dari Hadramaut bisalah disebut sebagai salah satu contoh dari banyak dai pengelana yang kita punya di zaman ini.

Karena itu, pergi dan pergilah. Tengoklah saudara-saudara sesama muslim kita. Siapa tahu, ada di antara mereka yang kekurangan, kelaparan. Galang solidaritas karena mereka adalah saudara kita juga, meski mereka berlainan suku dan kebangsaan.

Siapa tahu ada di antara mereka yang selama ini telantar, tak terperhatikan, kurang bimbingan, sehingga keberagamaan mereka mengalami erosi. Atau, jangan-jangan malah ada ancaman yang sedang mengintai iman mereka.

Siapa tahu ada di antara mereka yang tertindas, terzhalimi. Nabi s.a.w. bersabda:

اُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا َأوْ مَظْلُومًا

“Bantulah saudaramu, baik dalam keadaan zhalim (dengan melarang dia mengeruskan kezhalimannya) maupun dalam keadaan terzhalimi.”

Banyak komunitas muslim yang tertindas, sementara api solidaritas umat semakin meredup. Kita, misalnya, semakin tidak peduli terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di Irak, Afghanistan dan Palestina.

Pergi dan pergilah. Siapa tahu ada tempat-tempat mulia dan penting yang merana. Mungkin berupa masjid, mushalla, atau lembaga-lembaga pendidikan. Sebagai contoh, Masjidil Aqsha di Palestina adalah salah satu dari tiga masjid yang dengan sangat jelas disebut oleh Nabi s.a.w. sebagai tempat-tempat suci, yang baik untuk dikunjungi. Kini, keberadaan masjid tersebut sedang dalam ancaman.

Makanya, pergi dan pergilah dari tempatmu kini, temuilah saudara-saudaramu dari lain-lain tempat, dan rasakan bahwa kamu adalah bagian dari masyarakat muslim dunia yang beragam. Semangat seperti ini harus senantiasa dihidupkan. Paling tidak setahun sekali. Jangan sampai redup, apalagi padam. Begitulah pesan dari amal ibadah haji, khususnya dari pelaksanaan wuquf di Arafah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s