SISI LAIN KEHIDUPAN PADI

Padi (Oryza sativa) tentu tidak asing bagi kita. Tanaman yang menjadi bahan baku makanan pokok kebanyakan masyarakat ini bisa dijumapi di setiap pelosok desa. Hamparan sawah yang menghijau dan ranumnya malai padi yang menguning menjadi daya tarik tersendiri bagi yang menyukai keindahan.

Para ahli pertanian dengan tekun meneliti tanaman ini, baik ahli agronomi, fisiologi, hama penyakit, bahkan kultur jaringan. Penelitian tentang padi menjadi tantangan yang mengasyikkan. Ditemukannya varietas-varietas baru merupakan karya gemilang para ahli.

Orang tua kita sering menjadikan tanaman padi sebagai simbol tamsil bagi orang yang sedang menuntut ilmu. “Contohlah ilmu padi, makin berisi makin merunduk” kata mereka. Ungkapan tersebut diterima masyarakat karena memang itulah yang harus dilakukan oleh orang yang berilmu. Sifat sombong yang muncul dari seseorang menunjukkan seberapa banyak ilmu yang ia miliki.

Namun yang tidak boleh kita lupakan adalah, disamping nilai manfaat yang diberikan oleh padi, sebenarnya ia juga mempunyai sisi negatif dalam kehidupannya. Bahkan dilihat dari kacamata agama bisa jadi sangat bertentangan.

Coba kita perhatikan. Ketika kita menyebar biji padi di pesemaian, selang beberapa hari muncullah akar yang memutih dan daun yang menghijau. Setelah berumur 21 hari, bibit padi siap untuk ditransplanting.
Beberapa minggu setelah padi ditanam, apa yang terjadi ? Tanaman padi mengeluarkan anakan, kemudian dia bunting, dan akhirnya padi siap kawin.

Dalam munakahat, urut-urutan yang benar dimulai dari khitbah (melamar) untuk memilih bibit unggul. Setelah seluruh persiapan dinyatakan oke baru dilangsungkan perkawinan. Sebagai buah dari perkawinan, sang istri pun hamil, dan pada akhirnya ia akan melahirkan seorang anak.

Fenomena yang muncul sekarang adalah maraknya masyarakat meniru sisi negatif tanaman padi. Akad nikah yang mestinya merupakan gerbang untuk menggapai kebahagiaan rumah tangga, sering dipandang sebagai alat untuk melegalkan sisi negatif padi yang sudah terlanjur dilakukan.

Di tengah hingar bingarnya masyarakat dunia menyambut ‘hari kasih sayang’, kita perlu untuk menyegarkan kembali ingatan kita pada sabda Rasulullah SAW :

وَلاَ ظَهَرَتْ فِيْهِمُ الْفَاحِشَةُ اِلاَّ فَشَا فِيْهِمُ الْمَوْتُ

“Tidak semata-mata bencana kematian itu menyebar pada suatu kaum kecuali apabila perbuatan zina sudah bermunculan di kalangan mereka”.

Untuk menghindari bencana yang lebih besar di kemudian hari, sangat ideal manakala kita berpegang teguh pada ajaran agama. Zina bukan hanya berbahaya bagi pelakunya, tapi geneasi yang lahir kemudian juga akan menanggung beban.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s