SEMUT YANG CERDIK

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَ قَالَ يَا اَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَ اُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْئٍ اِنَّ هذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ . وَ حُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُوْدُهُ مِنَ الْجِنِّ وَ اْلاِنْسِ وَ الطَّيْرِ فَهُمْ يُوْزَعُوْنَ

Dan Sulaiman telah mewarisi Nabi Daud. Kemudian dia berkata, ”Hai manusia kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu, sesungguhnya ini benar-benar karunia yang nyata dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentara dari jin, manusia, dan burung lalu mereka itu diatur dengan tetib.” (QS An Naml [27]: 16-17).

Alkisah 1
Suatu hari Nabi Sulaiman AS memperhatikan dengan seksama aktivitas semut yang sedang sibuk mengumpulkan biji-biji gandum. Satu sama lain terlihat akrab, sesekali mereka saling tegur sapa. Akhirnya, terjadilah dialog Nabi Sulaiman dengan seekor semut.

”Wahai semut saya lihat kalian sangat rajin bergotong royong untuk mencari makan.” ”Begitulah yang mulia, sebab hamba yang lemah dan kecil ini tidak sanggup bekerja sendirian, hamba harus selalu bekerja sama untuk mengangkut biji-bijian yang besarnya melebihi tubuh hamba,” jawab semut.

”Sesungguhnya berapa kebutuhan seekor semut pertahunnya terhadap biji gandum?” tanya Nabi Sulaiman penuh selidik. Sang semut menjawab bahwa bagi dirinya cukup enam biji gandum saja setahunnya.Lalu, diambilnya seekor semut dan diberi bekal enam biji gandum, kemudian dimasukan ke dalam kotak kecil dan dibiarkan semut itu tidak diusik sama sekali.

Setelah setahun penuh, barulah kotak yang berisi seekor semut dan enam biji gandum tadi dibuka. Alangkah kagetnya nabi Sulaiman, sebab dikotak tersebut sang semut masih menyisakan tiga biji gandum. ”Wahai semut,” tanya Sulaiman, ”Sudah setahun lewat tapi kenapa kamu hanya memakan tiga biji gandum saja dan menyisakan yang lainya?”

”Begini yang mulia, di alam bebas di mana hamba bebas mencari makan sendiri, memang hamba menghabiskan enam biji gandum pertahunnya. Namun, bagaimana dengan keadaan hamba yang dibelenggu saat ini. Lagi pula siapa yang dapat menjamin bahwa dalam waktu satu tahun, tuan tidak lupa membuka kotak ini. Untuk itu hamba sengaja makan separuhnya dan menyisakan lagi separuhnya untuk berjaga-jaga,” jawab sang semut.

Kisah ini menggambarkan sikap gotong royong, toleransi, dan kesederhaan semut dalam kehidupannya. Semut tidak serakah, tidak sombong terhadap semut lainnya, dan selalu bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai urusannya. Andaikata kita bisa mengambil pelajaran dari kisah semut ini, tentulah akan menjadikan akhlak kita semakin baik

Alkisah 2
Pada jaman Nabi Sulaiman AS ribuan ekor semut mati di dalam sarangnya pada musim dingin, karena mereka tidak bisa keluar mengingat cuaca yang tidak memungkinkan mereka beraktivitas di luar. Belajar dari pengalaman tersebut, semut secara berkelompok menggunakan instinknya untuk mencari makanan sebanyak-banyaknya. Mereka simpan di dalam sarang sebagai bekal jika musim dingin kembali menerpa mereka.

Sungguh menakjubkan… sebagai antisipasi kelaparan pada musim dingin mereka menggotong makanan yang ukurannya jauh lebih besar dibanding tubuhnya. Langkah yang mereka lakukan ternyata berhasil. Dengan usaha keras mereka tidak terjadi lagi semut-semut mati kelaparan pada musim dingin.

Subhanallah…

Untuk menghadapi ganasnya musim dingin yang rata-rata berlangsung 3 bulan, semut telah memberikan pelajaran berharga bagi manusia. Sudahkah kita mempersiapkan diri agar terhindar dari bencana yang mungkin timbul di masa mendatang ? Bagaimana dengan persiapan kita untuk menjalani hidup di akhirat yang tak berkesudahan ?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s