ENERJI POSITIF SEBUAH PELUKAN

Suatu hari di Gua Hira, Muhammad SAW sedang bertahannuts (berdiam diri sambil beribadah kepada Rabbnya). Beliau telah berhari-hari tinggal di sana untuk memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Ketika tiba saatnya bulan Ramadhan, tiba-tiba muncullah sesosok makhluk dalam wujud seorang laki-laki.

Makhluk tersebut memeluk Muhammad sambil berkata “Iqra” (bacalah). Kemudian beliau menjawab, “Ma ana biqori-in” (saya tidak bisa membaca). Sosok tersebut mengulang kembali perintah yang sama yang dijawab sama pula oleh Muhammad. Hal tersebut berulang hingga tingga kali.

Setelah itu, Muhammad dapat membaca kata-kata yang diajarkan sosok tersebut. Di kemudian hari, kata-kata itu menjadi wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Muhammad melalui Jibril, sosok laki-laki yang menemui Muhammad di Gua Hira.

Sepulang dari Gua hira, Muhammad mencari Khadijah (isterinya) dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku”. Ia gemetar ketakutan dan saat itu yang paling diinginkannya adalah kehangatan, ketenangan dan kepercayaan dari orang yang dicintainya. Khadijah pun langsung menyelimuti Muhammad dan sambil memeluk, ia mendengarkan curahan hati sang suami tercinta. Khadijah pun kemudian menenangkan dan meyakinkan suaminya bahwa yang dialaminya bukanlah sesuatu yang menakutkan, namun amanah yang akan sanggup ia jalankan, kelak di kemudian hari.

Mendengar ucapan isterinya yang begitu yakin membuat hati Muhammad tenang dan beliau merasa yakin bahwa dirinya baru saja diangkan menjadi Rasul. Dan setelah itu, Rasulullah selalu mendambakan pelukan hangat dari Khadijah setiap kali mendapatkan hambatan dakwah.

Terapi pelukan hampir sama dengan terapi jalan kaki. Terapi pelukan meningkatkan keseimbangan tubuh, kesehatan dan mengurangi stres. Tentu saja, pelukan di sini tidak harus antara suami dan isteri ataupun pelukan yang mengikutsertakan gairah di dalamnya.

Pelukan yang dimaksud di sini adalah pelukan yang dapat dilakukan pada dan oleh siapa saja dengan penuh kasih sayang, misalnya orang tua kepada anaknya, kakak kepada adiknya, kakek/nenek kepada cucunya, dan sebagainya.

Dr. Bhagat, salah seorang doktor yang meneliti pengaruh pelukan di India mengatakan, “SENTUHAN, walau sekedar jabat tangan dan menyentuh pipi dengan pipi, ini ada manfaatnya. Ada rasa kehangatan ketika kita saling berjabat tangan. Namun, bila dilakukan lebih dari itu, yaitu dengan PELUKAN, tentu lebih bermanfaat, unsur terapinya lebih tinggi”.

Seluruh bagian di kulit kita memiliki organ perasa. Dari ujung kaki hingga kepala adalah area yang sensitif bila disentuh. Bahkan ketika masih di dalam kandungan (walau dilindungi air ketuban), sang janin sangat menyukai sentuhan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Jika sering disentuh, janin dalam kandungan akan tumbuh menjadi bayi yang sehat. Selain itu, secara psikis bayi tersebut akan tumbuh menjadi orang yang penyayang.

Anak-anak yang sering disentuh, dibelai, dan dipeluk oleh orang tuanya juga akan tumbuh menjadi anak yang sehat. Mereka akan merasa nyaman dan memiliki kepercayaan diri. Pertumbuhan dan kesehatan mereka pun akan lebih bagus dibanding dengan anak-anak yang jarang disentuh, dibelai, dan dipeluk.

Jika bayi atau anak-anak rewel atau sakit, jangan biarkan mereka sendirian. Peluklah, karena hal tersebut akan membuat mereka nyaman, kekebalan tubuhnya meningkat yang pada gilirannya akan membuat kondisi kesehatan mereka lebih baik.

Pada manusia dewasa, sentuhan dan pelukan juga sangat berarti, apalagi pada saat kehilangan seseorang, depresi, maupun stres. Dengan berpelukan, dia merasa ada orang yang memperhatikan, mencintai, dan membutuhkannya.

Perlu diketahui bahwa seluruh kulit kita sangat peka terhadap rangsang pelukan dan sangat membutuhkan sentuhan yang hangat dan erat. Dr. Harold Voth, senior psikiater di Kansas (Amerika Serikat) telah melakukan riset dengan menggunakan sampel ratusan orang. Hasilnya, mereka yang berpelukan mampu mengusir depresi, meningkatkan kekebalan tubuh, awet muda, tidur lebih nyenyak, dan badan akan terasa lebih sehat.

Helen Colton, penulis buku The Joy of Touching juga menemukan bahwa ketika seseorang disentuh, hemoglobin dalam darahnya meningkat hingga suplai oksigen ke jantung dan otak lebih lancar, badan menjadi lebih sehat, dan mempercepat proses penyembuhan.

Maka bisa dikatakan bahwa pelukan bisa menyembuhkan penyakit “hati” dan merangsang hasrat hidup. Hal tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan oleh jurnal Psychosomatic Medicine yang menyatakan bahwa pelukan hangat dapat melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian. Hormon tersebut akan menekan hormon penyebab stres yang awalnya mendekan di tubuh manusia.

Untuk itu, mulai saat ini budayakanlah di rumah kita untuk saling memeluk. Ibu maupun ayah harus sesering mungkin memeluk anaknya, begitupun sebaliknya. Seorang kakakpun harus sering memeluk adiknya sehingga akan terasa kasih sayang diantara keduanya.

Jika budaya pelukan sudah menghiasi setiap rumah, maka akan lahirlah generasi-generasi yang memiliki kasih sayang yang tinggi. Dan dengan kasih sayang yang tinggi akan mampu meminimalisir ketidakstabilan emosi manusia yang senantiasa berkasih sayang. Dalam salah satu hadits,

عَنْ جَريْر بْن عَبْد الله قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلى الله عليه و سلم : مَنْ لَمْ يَرْحَم الناسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللهُ (رواه الترمذى)

Dari Jarir bin Abdullah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang kasih sayang kepada manusia, Allah tidak akan kasih sayang kepadanya”. (HR Tirmidzi).

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s